Semarak Naik Dango ke-3 Warnai Pontianak, Pawai Budaya Dayak Jadi Daya Tarik Warga
PONTIANAK, – Kota Pontianak kembali diramaikan dengan nuansa budaya khas Dayak melalui pelaksanaan pawai display budaya dalam rangka Naik Dango ke-3.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 20 April 2026 itu menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian perayaan adat Dayak di Kalimantan Barat sekaligus menarik perhatian masyarakat yang memadati sejumlah ruas jalan utama kota.
Pawai budaya tersebut digelar oleh Dewan Adat Dayak Kota Pontianak sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan tradisi Dayak kepada masyarakat luas. Ratusan peserta tampil mengenakan pakaian adat lengkap dengan ornamen khas yang mencerminkan keberagaman sub-suku Dayak di Kalimantan Barat.
Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan titik awal di Rumah Betang Pontianak dan berakhir di Rumah Radakng. Sepanjang perjalanan, peserta melintasi sejumlah ruas jalan protokol seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Veteran, Jalan Gajah Mada, Jalan Diponegoro, Gang Sultan Lelanang, hingga Jalan St. Abdurahman sebelum tiba di lokasi akhir kegiatan.
Rute sepanjang kurang lebih 6,35 kilometer itu dipilih untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta dalam menampilkan atraksi budaya. Selain itu, jalur tersebut merupakan kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga semakin banyak warga dapat menyaksikan langsung kemeriahan pawai budaya Dayak tersebut.
Sepanjang rute pawai, berbagai atraksi budaya ditampilkan oleh peserta. Mulai dari tarian tradisional, musik khas Dayak, hingga simbol-simbol budaya yang memiliki nilai filosofis mendalam. Ornamen seperti mandau, tameng atau perisai khas Dayak, serta hiasan bulu burung menjadi daya tarik tersendiri yang memikat perhatian masyarakat.
Tidak sedikit warga yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari dengan banyaknya warga yang berdiri di tepi jalan untuk menyaksikan rombongan peserta pawai melintas.
Selain menjadi hiburan masyarakat, pawai budaya ini juga memiliki nilai edukatif karena memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda. Setiap penampilan peserta menggambarkan identitas budaya masing-masing sub-suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat.
Naik Dango sendiri merupakan tradisi adat masyarakat Dayak yang memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah musim panen sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi Naik Dango mengalami transformasi menjadi festival budaya yang lebih terbuka dan melibatkan masyarakat luas. Meski demikian, nilai-nilai adat dan filosofi yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan.
Pelaksanaan festival budaya seperti ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi di tengah arus modernisasi. Apalagi budaya lokal saat ini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Melalui kegiatan budaya yang dikemas lebih menarik dan terbuka, generasi muda diharapkan semakin mengenal serta mencintai budaya daerahnya sendiri. Tidak hanya sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas yang harus dijaga bersama.
Pawai budaya Naik Dango juga menjadi ruang ekspresi bagi masyarakat adat Dayak untuk menunjukkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka. Selain memperkuat identitas budaya, kegiatan ini turut mempererat hubungan sosial antarwarga.
Nilai kebersamaan dan gotong royong terlihat dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Mulai dari komunitas adat, sanggar seni, hingga masyarakat umum turut ambil bagian dalam memeriahkan pawai budaya.
Di sisi lain, event budaya seperti Naik Dango juga memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata daerah. Kehadiran festival budaya mampu menarik minat wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dekat budaya Dayak yang menjadi salah satu identitas utama Kalimantan Barat.
Pontianak sebagai kota multikultural dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan wisata budaya. Beragam tradisi dan budaya yang hidup berdampingan menjadi kekayaan tersendiri yang dapat terus dikembangkan.
Pawai budaya Naik Dango menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal dapat dikemas secara menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Panitia pelaksana juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Beberapa ruas jalan utama yang dilalui peserta pawai sempat mengalami peningkatan volume kendaraan akibat antusiasme warga yang datang menyaksikan kegiatan tersebut.
Masyarakat yang hendak melintas di jalur pawai disarankan menggunakan jalur alternatif guna menghindari kepadatan lalu lintas. Selain itu, warga yang menonton juga diminta menjaga ketertiban agar kegiatan berjalan aman dan lancar.
Kegiatan budaya seperti Naik Dango dinilai memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi budaya Dayak di tengah perkembangan zaman. Dukungan dari masyarakat, pemerintah, serta komunitas adat menjadi faktor penting agar tradisi ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, Naik Dango juga menjadi simbol pelestarian budaya dan penguatan identitas masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Dengan kemasan yang semakin modern tanpa meninggalkan nilai tradisional, festival budaya ini diharapkan terus berkembang dan mampu menarik perhatian generasi muda maupun wisatawan dari luar daerah.
Semarak pawai budaya Naik Dango ke-3 di Pontianak menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah masyarakat modern. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu kini tidak hanya menjadi milik komunitas adat, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah yang patut dijaga bersama.





