Wakapolres Mempawah Ikuti Ritual Adat Paminta Ujan Bersama 24 Personel di Desa Kecurit Toho
MEMPAWAH – Sebanyak 24 personel Polres Mempawah dari suku Dayak mengikuti ritual adat Paminta Ujan yang digelar di Desa Kecurit, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Senin (7/9/2026).
Ritual adat tersebut turut dihadiri Wakapolres Mempawah Kompol Reynaldi Guzel, S.I.K. Kegiatan ini menjadi bentuk ikhtiar dan doa bersama di tengah kondisi kemarau yang menyebabkan cuaca kering serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Paminta Ujan merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar hujan segera turun. Pelaksanaan ritual juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Kompol Reynaldi Guzel mengatakan, berbagai langkah telah dilakukan jajaran Polres Mempawah bersama unsur terkait dalam menghadapi kondisi kemarau dan mencegah terjadinya karhutla.
“Berbagai upaya sudah kita lakukan, mulai dari sosialisasi, memberikan imbauan kepada masyarakat, patroli, pemantauan titik panas sampai dengan penanganan dan pemadaman apabila ditemukan adanya kebakaran,” ujar Kompol Reynaldi.
Menurutnya, pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD, masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya harus terus bersinergi untuk mengantisipasi potensi kebakaran.
“Penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Semua pihak harus bergerak bersama, termasuk masyarakat yang memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan,” katanya.
Di tengah berbagai upaya tersebut, Kompol Reynaldi menyebut ritual Paminta Ujan menjadi bagian dari ikhtiar dan doa bersama agar kondisi cuaca segera membaik.
“Kita sudah berusaha dan berikhtiar semaksimal mungkin. Setelah itu, kita berdoa dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan hujan segera turun,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan karena kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih cepat menyebar.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan melakukan pembakaran yang dapat menimbulkan kebakaran, terlebih dalam kondisi cuaca yang sangat kering seperti sekarang,” tegasnya.
Kehadiran Wakapolres Mempawah bersama personel dalam ritual tersebut juga menunjukkan komitmen Polri untuk menghormati keberagaman adat dan budaya masyarakat. Selain menjalankan tugas menjaga keamanan, kepolisian berupaya hadir dan membangun kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial maupun budaya.
Dengan dilaksanakannya ritual adat Paminta Ujan di Desa Kecurit, seluruh pihak berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan kembali membaik dan risiko karhutla di Kabupaten Mempawah dapat ditekan.
“Semoga melalui ikhtiar, kebersamaan dan doa yang kita lakukan ini, hujan segera turun dan kita semua dijauhkan dari bencana karhutla,” pungkas Kompol Reynaldi. (rf)





