Kapolres Mempawah AKBP Ade Chandra Ingatkan Satgas Darat Waspada Saat Chinook Lakukan Water Bombing

Kapolres Mempawah AKBP Ade Candra Capa Yanto bersama pihak terkait memantau aktivitas CH-47 Chinook milik Jepang saat menjalankan misi water bombing karhutla di perairan Mempawah, Kamis (17/9/2026). (Dok. Humres Mempawah )

MEMPAWAH – Helikopter CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Darat Jepang (Japan Ground Self-Defense Force/JGSDF) terlihat menjalankan misi pengambilan air untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di perairan Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (17/9/2026).

Dalam pengamatan langsung, helikopter tersebut mengambil air menggunakan metode slung bucket, yakni kantong air yang digantung di bawah badan helikopter.

Kantong air diturunkan hingga menyentuh permukaan air untuk diisi. Setelah penuh, helikopter kemudian mengangkat kantong tersebut dan membawanya menuju lokasi kebakaran untuk dijatuhkan melalui metode water bombing atau pemadaman dari udara.

CH-47 Chinook merupakan helikopter angkut berat dengan dua baling-baling utama yang tersusun secara tandem (tandem rotor). Konfigurasi tersebut membuat helikopter ini memiliki kemampuan daya angkut besar.

Dalam operasi pemadaman karhutla, helikopter ini mampu membawa sekitar 5 ton air atau ribuan liter air dalam sekali angkut, sebelum dijatuhkan ke titik api yang menjadi sasaran pemadaman.

Kapolres Ingatkan Satgas Darat

Pelaksanaan water bombing dari udara juga menjadi perhatian Polres Mempawah, khususnya terkait keselamatan personel satgas yang melakukan pemadaman di darat.

Kapolres Mempawah AKBP Ade Chandra Capa Yanto mengimbau seluruh satgas di darat terlebih lagi ada masyarakat disekitar titik lokasi api, agar tetap waspada ketika helikopter menjatuhkan air. Personel diminta tidak berada tepat di bawah jalur jatuhnya air.

“Kami mengimbau kepada seluruh satgas juga masyarakat yang berada di titik lokasi karhutla agar selalu waspada ketika helikopter melaksanakan water bombing. Jangan berada di bawah jalur jatuhnya air karena volume air yang dijatuhkan sangat besar,” ujar AKBP Ade Chandra Capa Yanto.

Menurutnya, air yang dijatuhkan dari udara memiliki volume yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan risiko cedera apabila mengenai personel secara langsung.

“Air yang dijatuhkan kurang lebih 5 ton. Kalau terkena langsung, tentu bisa menyebabkan cedera. Untuk itu, kami meminta personel menjaga jarak aman dan mengikuti arahan pengendali operasi,” katanya.

AKBP Ade Chandra juga menekankan pentingnya koordinasi antara unsur udara dan tim pemadam yang berada di lapangan. Personel diminta memperhatikan posisi helikopter serta jalur penjatuhan air sebelum dan selama proses water bombing berlangsung.

“Keselamatan personel harus menjadi prioritas. Kami meminta seluruh petugas tetap memperhatikan posisi helikopter, jalur penjatuhan air, serta instruksi dari pengendali di lapangan,” tegasnya.

Dukungan Pemadaman Karhutla

Kehadiran CH-47 Chinook Jepang memberikan tambahan dukungan dalam operasi penanggulangan karhutla di Kalimantan Barat. Kemampuan mengangkut air dalam jumlah besar memungkinkan pemadaman dilakukan dari udara, terutama pada wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Operasi water bombing tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam penanganan karhutla yang melibatkan unsur pemerintah, TNI, Polri, dan satgas terkait.

Dengan dukungan armada udara serta koordinasi yang baik antara tim udara dan darat, penanganan kebakaran diharapkan dapat berlangsung lebih efektif, aman, dan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas. (rf)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan