JS Kunisaki Bersandar di Pelabuhan Kijing, Bawa 3 Helikopter Chinook untuk Tangani Karhutla Kalbar
MEMPAWAH — Kapal angkut milik Pasukan Bela Diri Jepang, JS Kunisaki (LST-4003), tiba dan bersandar di Dermaga Pelabuhan Internasional Kijing, Desa Sungai Kunyit Laut, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (10/9/2026) pagi.
Kapal tersebut membawa dukungan Jepang untuk membantu pemerintah Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
JS Kunisaki membawa sekitar 180 personel tentara Jepang, tiga unit helikopter berat CH-47 Chinook, sekitar 20 unit kendaraan jenis jeep dan truk, serta tiga unit alat berat.
Tiga helikopter CH-47 Chinook menjadi salah satu kekuatan utama yang dipersiapkan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla dari udara atau water bombing.
Kedatangan kapal dan personel Jepang disambut unsur Forkopimda serta sejumlah stakeholder terkait di kawasan Pelabuhan Internasional Kijing.
Sejumlah pejabat yang hadir di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, Dankodaeral XII Laksda TNI Sawa, Dandim 1201/Mempawah Letkol Czi Ali Isnaini, Wakapolres Mempawah Kompol Reynaldi Guzel, serta jajaran TNI, Polri, otoritas pelabuhan, imigrasi dan bea cukai.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penyambutan, sambutan dari pihak Indonesia dan Jepang, foto bersama, kemudian dilanjutkan dengan pengecekan kapal serta peralatan yang dibawa.
Wakapolres Mempawah Kompol Reynaldi Guzel mengatakan, kedatangan JS Kunisaki merupakan bagian dari dukungan Jepang dalam membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
“Kegiatan penerimaan kapal Jepang JS Kunisaki dalam rangka bantuan helikopter dalam penanganan karhutla di Provinsi Kalimantan Barat,” kata Reynaldi Guzel.

Menurut Reynaldi, kehadiran tiga helikopter Chinook beserta personel pendukung menjadi tambahan kekuatan dalam operasi penanggulangan karhutla.
“Dengan adanya tambahan kekuatan ini, kita berharap penanganan karhutla di Kalimantan Barat semakin maksimal dan kebakaran hutan dan lahan dapat segera berakhir,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menekankan bahwa karakteristik lahan di Kalimantan Barat menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla, terutama pada kawasan gambut.
Menurutnya, api di lahan gambut dapat menjalar hingga ke bawah permukaan sehingga tidak mudah dipadamkan hanya dengan penanganan di permukaan.
Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah. Debit sungai yang menurun juga menyebabkan air laut masuk ke aliran sungai sehingga sebagian sumber air menjadi asin dan menyulitkan proses pemadaman.
Krisantus mengatakan pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan BNPB, TNI dan Polri dalam menentukan lokasi operasi pemadaman berdasarkan titik api yang masih terdeteksi.
Ia juga meminta para pelaku usaha, khususnya pemegang Hak Guna Usaha (HGU), turut membantu pemerintah dalam penanganan karhutla.
“Bagi pemilik HGU yang tidak peduli, sanksinya sudah jelas. Kita akan cabut izinnya,” tegasnya.
Setelah penyambutan, dilakukan pertemuan singkat dan koordinasi antara Wakil Gubernur Kalimantan Barat, komandan kapal Jepang, otoritas pelabuhan serta aparat keamanan setempat.
Sebanyak 180 personel Jepang yang tiba bersama JS Kunisaki selanjutnya akan mendukung kegiatan operasi penanganan karhutla yang berpusat di Kota Pontianak.
Kedatangan kapal militer Jepang tersebut menjadi bagian dari dukungan internasional dalam memperkuat upaya Indonesia menghadapi bencana karhutla di Kalimantan Barat.
Dengan dukungan tiga helikopter CH-47 Chinook, personel Jepang, kendaraan dan alat berat, serta kekuatan gabungan pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat, operasi penanganan karhutla diharapkan dapat dilakukan lebih cepat, khususnya terhadap titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Seluruh rangkaian penyambutan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Kegiatan berlangsung aman, lancar dan situasi di kawasan Pelabuhan Internasional Kijing tetap kondusif. (rf)





