Satgaskab Mempawah Siapkan Kalender Karhutla, Mitigasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Bupati Mempawah Erlina bersama Satgaskab Karhutla memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini karhutla melalui penyusunan Kalender Karhutla. (Dok. Istimewa)

MEMPAWAH — Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgaskab Karhutla) menyiapkan langkah baru untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kamis (03/09/2026).

Salah satu strategi yang tengah disiapkan yakni Kalender Karhutla, yang nantinya menjadi acuan dalam memetakan periode rawan kebakaran berdasarkan catatan kejadian dan kondisi klimatologi di Kabupaten Mempawah.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menggeser pola penanganan karhutla yang selama ini lebih banyak berorientasi pada pemadaman menjadi pencegahan dan deteksi dini.

Bupati Mempawah, Erlina, mengatakan kondisi karhutla di Mempawah saat ini relatif terkendali. Meski demikian, pemerintah daerah tidak ingin lengah dan tetap meningkatkan kesiapsiagaan, terutama pada periode musim kemarau.

“Memang titik api di Mempawah tercatat lebih sedikit dibanding daerah lain, namun kita tetap berkomitmen memperkuat penanganan,” ujar Erlina.

Menurutnya, upaya pencegahan tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Keterlibatan perusahaan, aparat, pemerintah desa hingga masyarakat dinilai penting untuk mempercepat informasi apabila muncul potensi kebakaran.

Erlina menyebut Kalender Karhutla akan menjadi salah satu instrumen untuk membantu meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanggulangan karhutla.

“Kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah prioritas tertinggi. Masukan dari masyarakat juga menjadi bagian penting dalam penyusunan Kalender Karhutla ini,” katanya.

Ia menambahkan, pemetaan periode rawan sebenarnya telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, ke depan konsep tersebut akan diperkuat dan ditetapkan secara resmi agar dapat menjadi pedoman bersama.

Sementara itu, Ketua Satgaskab Karhutla Mempawah, Aswin, menjelaskan bahwa pemetaan kerawanan karhutla telah dilakukan dengan menggunakan data kejadian sejak 2015 serta mempertimbangkan kondisi musim dan klimatologi.

Dari evaluasi tersebut, periode akhir Juni hingga Oktober menjadi salah satu rentang waktu yang perlu mendapat perhatian lebih karena tingkat kerawanan kebakaran cenderung meningkat.

“Kami melihat pola dari data empiris yang ada sejak 2015. Dari catatan tersebut, periode musim kemarau dan bulan-bulan kering menunjukkan tingkat kerawanan yang lebih tinggi,” jelas Aswin.

Dengan adanya pemetaan tersebut, Satgaskab akan meningkatkan patroli dan pemantauan di sejumlah wilayah yang dianggap rawan.

Kegiatan tersebut dilakukan secara lintas sektor dengan melibatkan BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), TNI-Polri, termasuk Bhabinkamtibmas dan Babinsa, serta unsur masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah desa hingga perangkat di tingkat RT.

Selain melakukan pencegahan, Satgaskab juga memperkuat respons ketika ditemukan hotspot maupun titik api.

Salah satunya melalui pengoperasian posko terpadu selama 24 jam dengan sistem piket bergiliran. Skema tersebut ditujukan agar setiap laporan mengenai titik panas maupun kemunculan api dapat segera diteruskan kepada petugas di lapangan.

“Deteksi dini menjadi kunci. Semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang api dapat ditangani sebelum meluas,” ungkap Aswin.

Saat ini, penanganan karhutla juga masih difokuskan pada sejumlah titik yang terpantau, termasuk kebakaran lahan di Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang.

Petugas terus melakukan pemantauan dan pemadaman terhadap titik api tersebut guna mencegah kebakaran meluas ke area lainnya.

Satgaskab Karhutla Mempawah juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, maupun indikasi kebakaran lahan di lingkungan masing-masing.

Dengan penguatan Kalender Karhutla, patroli, posko 24 jam dan keterlibatan berbagai unsur, Pemkab Mempawah berharap potensi karhutla dapat ditekan sejak dini sehingga tidak berkembang menjadi bencana yang berdampak terhadap kesehatan, lingkungan dan aktivitas masyarakat. (rf)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan