14 DPD LDII se-Kalbar Bulat Dukung Susanto, Kembali Pimpin DPW Periode 2026–2031

Susanto memegang bendera LDII usai ditetapkan kembali sebagai Ketua DPW LDII Kalimantan Barat periode 2026–2031 dalam Muswil VIII LDII Kalbar. Kamis (24/9/2026). (Dok. Istimewa).

PONTIANAK — Susanto kembali dipercaya memimpin Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat untuk periode 2026–2031.

Keputusan tersebut diambil dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII Kalimantan Barat yang berlangsung di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Kamis (24/9/2026).

Dalam musyawarah tersebut, 14 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII kabupaten/kota se-Kalimantan Barat menyatakan dukungan kepada Susanto. Dukungan tersebut mengantarkan Susanto kembali menjadi Ketua DPW LDII Kalbar melalui proses aklamasi.

Mandat tersebut sekaligus memperpanjang kepemimpinan Susanto di tingkat provinsi. Lima tahun ke depan, ia diharapkan mampu melanjutkan konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan peran LDII dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan pembangunan daerah.

Usai ditetapkan sebagai ketua, Susanto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya.

Menurutnya, kepercayaan tersebut bukan sekadar mandat organisasi, melainkan amanah yang harus diwujudkan melalui kerja bersama dan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kepercayaan ini menjadi tantangan yang mesti dibuktikan dengan kinerja yang lebih baik. Amanah dari seluruh warga LDII harus kami pertanggungjawabkan,” ujar Susanto.

Ia mengatakan, kepengurusan periode 2026–2031 akan diarahkan untuk membangun organisasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, Susanto menilai kolaborasi menjadi salah satu hal penting dalam menjalankan program organisasi. LDII, kata dia, akan terus membangun komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, dunia usaha serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

“Ke depan kami akan bekerja bersama, memperkuat sinergi, dan meningkatkan kontribusi LDII untuk masyarakat, bangsa, dan Kalimantan Barat,” katanya.

Susanto menilai keberadaan organisasi kemasyarakatan tidak cukup hanya dengan memperkuat struktur internal. Organisasi juga dituntut mampu menghadirkan solusi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kunci organisasi dapat berkembang jika mampu adaptif dan menghadirkan solusi atas permasalahan umat. Umat ingin peran ormas semakin nyata,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Susanto juga menyinggung proses Muswil VIII LDII Kalbar. Ia mengaku sejak awal mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya berkutat pada persoalan siapa yang akan memimpin, tetapi lebih jauh membahas apa yang dapat dilakukan organisasi selama lima tahun mendatang.

Menurut dia, Muswil bukan semata-mata forum untuk menetapkan kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjalankan program dan pengabdian organisasi.

“Muswil VIII LDII bukan sekadar pergantian atau penetapan kepemimpinan, tetapi menjadi momentum memperkuat komitmen seluruh jajaran LDII untuk menghadirkan karya dan pengabdian yang berkelanjutan,” katanya.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya dilihat dari kekuatan struktur maupun jumlah anggotanya. Lebih dari itu, keberhasilan harus tercermin dari manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.

“Ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya seberapa kuat organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat,” lanjut Susanto.

Untuk periode kepemimpinan mendatang, dirinya juga berkomitmen memperkuat sinergi dengan berbagai komponen masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya dalam menjalankan peran LDII di bidang dakwah dan sosial kemasyarakatan.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat juga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian bersama.

“Sekarang eranya kolaborasi, saatnya perkuat sinergi. Permasalahan yang dihadapi pemerintah, masyarakat juga menjadi masalah kami, sehingga kami akan mengambil bagian untuk turut andil memberikan solusi,” tegasnya.

Susanto menyebut kontribusi organisasi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan berskala besar. Menurutnya, hal terpenting adalah adanya kemauan untuk hadir dan memberikan manfaat sesuai kemampuan.

“Walaupun karya yang kami berikan juga tidak terlalu besar, namun nilai yang kami persembahkan adalah pengabdian,” pungkasnya. (rf)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan