Atlet Disabilitas Asal Desa Nusapati Tuntaskan 10 KM di Tanjungpura City Run 2026
MEMPAWAH – Semangat pantang menyerah ditunjukkan Dwi Redi Radiallah, atlet disabilitas kelahiran Desa Nusapati, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang sukses menyelesaikan kategori 10 kilometer pada ajang Tanjungpura City Run 2026. Event yang digelar pada Minggu, 19 Juli 2026 di kawasan Makodam XII/Tanjungpura, Kubu Raya tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Kodam XII/Tanjungpura.
Ajang lari yang diikuti ribuan peserta dari kalangan TNI, Polri, pelajar, masyarakat umum hingga kategori master itu menjadi pengalaman perdana bagi Redi turun di nomor 10 kilometer. Meski menghadapi berbagai tantangan, ia berhasil mencapai garis finis dengan penuh semangat.
Dalam wawancara pada Jumat (24/7/2026), Redi mengaku keberhasilannya menyelesaikan lomba menjadi pencapaian yang sangat berharga.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur, bangga, dan bahagia bisa menyelesaikan kategori 10 KM. Bagi saya, garis finis bukan hanya akhir dari perlombaan, tetapi juga bukti bahwa kerja keras, latihan, dan semangat pantang menyerah membuahkan hasil,” ujar Redi.
Menurutnya, motivasi terbesar mengikuti kategori 10 kilometer bukan hanya untuk menguji kemampuan diri, tetapi juga membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu menyelesaikan tantangan yang sama dengan peserta lainnya.
“Saya ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu menyelesaikan tantangan seperti lari 10 kilometer. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha,” katanya.
Untuk menghadapi perlombaan tersebut, Redi menjalani persiapan selama kurang lebih satu bulan. Ia rutin berlatih, menjaga pola makan, mencukupi waktu istirahat, serta meningkatkan daya tahan tubuh agar mampu menyelesaikan lomba dengan baik.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terberat adalah menjaga ritme lari hingga garis finis, terutama ketika rasa lelah mulai terasa di kilometer-kilometer terakhir.
“Tantangan terberat adalah menjaga ritme lari agar tetap konsisten sampai finis. Saat rasa lelah datang di kilometer terakhir, saya terus memotivasi diri untuk tetap melangkah,” ungkapnya.
Redi mengaku sangat terkesan karena ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti kategori 10 kilometer. Selain atmosfer perlombaan yang meriah, dukungan para pelari dan masyarakat di sepanjang rute turut menambah semangatnya.
Kesuksesan tersebut, lanjut Redi, tidak lepas dari dukungan keluarga, pelatih, teman-teman, dan rekan sesama atlet yang terus memberikan motivasi serta doa.
Ia juga merasa bangga karena mampu membawa nama baik kampung halamannya.
“Saya berharap bisa membawa nama baik Desa Nusapati dan menunjukkan bahwa dari desa pun kita bisa berprestasi jika mau berusaha dan terus berlatih,” tuturnya.
Respons positif pun datang dari keluarga dan masyarakat setelah dirinya berhasil menyelesaikan lomba. Dukungan tersebut menjadi motivasi untuk terus mengikuti berbagai ajang lari berikutnya.
Redi pun berpesan kepada masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, agar tidak takut mencoba dan terus mengejar impian.
“Jangan pernah takut untuk memulai. Setiap orang memiliki proses dan kemampuan masing-masing. Teruslah berlatih, percaya pada diri sendiri, dan jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mengejar prestasi,” pesannya.
Ke depan, Redi menargetkan untuk mengikuti Borneo Heritage 2026 dengan persiapan yang lebih matang. Ia berharap dapat terus berkembang sebagai atlet, mengikuti lebih banyak kompetisi lari, mengharumkan nama Kalimantan Barat, serta membuktikan bahwa atlet disabilitas mampu bersaing dan berprestasi di berbagai ajang olahraga.
Kisah Dwi Redi Radiallah menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah, ia berhasil menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang mengejar mimpi. (rf)





